Mendag Blakblakan soal Pencabutan Harga Eceran Tertinggi Beras : Okezone Ekonomi UPDATE TERBARU

Berita terbaru hari ini mengabarkan tentang Mendag Blakblakan soal Pencabutan Harga Eceran Tertinggi Beras : Okezone Ekonomi.

JAKARTA – Pemerintah melalui Menteri Perdagangan telah membatalkan penerapan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 47/M-DAG/PER/7/2017. Permendag ini sebelumnya mengatur harga eceran tertinggi (HET) beras medium sebesar Rp9.000 per kg. 

“Permendag 47 itu belum diundangkan,” kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (31/7/2017).

Untuk itu, Enggar pun segara turun ke lapangan untuk menjelaskan hal ini. Salah satunya adalah dengan mendatangi Pasar Induk Cipinang.

“Saya menjelaskan ada 3 yang saya harapkan. Satu kepentingan konsumen kita jaga, jangan sampai terjadi fluktuasi harga kita biarkan karena ulah spekulan, kita mengabaikan petani tidak. Petani kami prioritaskan, dan yang ketiga jangan kita tidak membiarkan anggota petani dan penggilingan beras kecil itu mati oleh yang besar,” ujar Enggar.

Enggar pun menekankan moral dan etika dalam menjalankan bisnis, khususnya perdagangan beras. Untuk itu, kerjasama dengan pedagang beras dan pihak lainnya juga diharapkan agar harga beras dapat tetap terkendali. Permendag Nomor 20/M-DAG/PER/3/2017 tentang Pendaftaran Pelaku Usaha Distribusi Barang Kebutuhan Pokok pun harus ditaati oleh distributor.

“Kemudian saya ingatkan kembali sudah ada permendag 20 yaitu mereka wajib lapor perusahaan dan gudangnya serta stok tidak usah ada kekhawatiran. Sekarang ini sudah terbuka jadi tidak perlu ada kalau tidak ada niat yang tidak baik jangan tutup tutupi berapa posisi stok,” kata Enggar.

Baca Juga:

Ingat! Penetapan HET Beras Berpengaruh Terhadap Daya Beli Masyarakat

HET Diminta Berdasarkan Jenis Beras, Ini Alasannya!

Enggar pun menjamin bahwa pemerintah akan memerhatikan distribusi beras. Penimbun beras pun akan ditindak tegas oleh pemerintah.
 

“Ada gudang tidak dilaporkan dan penuh gudangnya dengan beras apalagi dengan beras langka maka dia kategori penimbun, Simpel saja. Menimbun itu pada saat beras langka, harga naik, dia simpan di gudang, nah itu dia nimbun. Begitu nimbun kita tangkap,” tegas Enggar.

Menurut Enggar, saat ini aturan yang digunakan sebagai harga acuan adalah Permendag Nomor 27/M-DAG/PER/5/2017. Dalam aturan ini, harga beras di tingkat konsumen dipatok sebesar Rp9.500 per kg. Hal ini pun direspons positif oleh pedagang, khususnya di Pasar Induk Cipinang.

“Saya sampaikan sekarang beli saja, dan tadi dilaporkan hari ini sudah masuk 4000 ton. Disana kembali lago 4000-3000 ton. Per tadi siang masuk 4.000 ton.  Jadi sekira 4.000-4.500 ton masuk dari beberapa waktu lalu turun 1800-1900 ton.  Jadi sekali lagi kita sedang menyusun sampai selesa, harganya detail dari sini ke sini berapa. Semua detail. Tadi saya buka dan saya monitor lagi,” ungkapnya.

Pemerintah juga akan menjamin tingkat kesejahteraan petani melalui harga gabah. Para petani pun diharapkan dapat semakin sejahtera dari hasil gabah yang dijual.

“Kemudian saya jelaskan harga gabah harga Rp3.900 itu adalah harga patokan, kalau lebih rendah dari harga itu upaya menjaga petani karena kalau harga turun dari bawah situ maka pemerintah lakukan intervensi supaya bisa tanam dan beli. Inilah peranan dari pemerintah dan bulog ini jaminan bagi petani kalau ini dibeli. Kadar air lebih tinggi bulog akan membeli,” ujarnya.

Konsumen pun diminta untuk tak takut membeli beras premium di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Sebab, pemerintah hingga saat ini belum menentukan HET untuk beras premium. Hal serupa juga diharapkan untuk tidak terjadi pada penggilingan beras. Penyederhanaan jenis beras juga dinilai perlu dilakukan. Namun, hal ini masih perlu pembahasan secara lebih lanjut.

Baca Juga:

Pasar Sepi, Pedagang Beras Cipinang Ketakutan Jual Beras di Atas HET

Aktivitas Perdagangan Sepi, Pedagang Beras Minta Besaran HET Direvisi

“Mari silakan sederhanakan saja dari sekian jenis beras jadi 3 jenis beras. Tapi apakah kita harus sama dengan India? Belum tentu. Vaeriteas implifikasi, mirip-mirip segala macam. Jadi yang namanya HET, harga eceran tertinggi. Ini batas maksimal. Ini macam-macam.  Kita ke Cipinang ada macam-macam harga, macam-macam harganya,” jelasnya.

Harga bahan pokok memang tengah menjadi perhatian pemerintah. Selain beras, daging sapi juga menjadi salah satu fokus perhatian Kementerian Perdagangan.

Pemerintah pun berencana akan melakukan impor dari Afrika Selatan. Hal ini merupakan tindak lanjut dari tawaran Afrika Selatan mengingat besarnya stok sapi di negara tersebut.

Murahnya harga daging sapi di Afrika Selatan yang hanya mencapai Rp40.000 per kilogram (kg) diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi harga daging di Indonesia. Hanya saja, rencana ini masih perlu pembahasan lebih lanjut.

“Daging sapi itu Rp40.000 sampai Rp45.000 itu, tapi saya enggak bisa bilang paha depan atau paha belakang,” tukasnya.

Berita hari ini yang mengejutkan seperti disampaikan sumber informasi tentang Mendag Blakblakan soal Pencabutan Harga Eceran Tertinggi Beras : Okezone Ekonomi.