Robert Mugabe, pengagum Marxisme yang lengser sebagai diktator UPDATE TERBARU

Berita terbaru hari ini mengabarkan tentang Robert Mugabe, pengagum Marxisme yang lengser sebagai diktator.

Merdeka.com – Presiden Zimbabwe Robert Mugabe akhirnya mengundurkan diri tadi malam setelah berkuasa selama 37 tahun. Pengumuman pengunduran diri Mugabe dibacakan Ketua Parlemen Jacob Mudenda lewat sebuah surat pernyataan.

Rakyat Zimbabwe langsung gegap gempita dan kegirangan menyambut kabar itu. Mereka bersorak sorai di jalanan menumpahkan kebahagiaan setelah lepas dari rezim diktator yang dikenal korup.

Terlahir dengan nama Robert Gabriel Mugabe pada 1924, dia berasal dari keluarga miskin di sebuah kota bernama Kutama yang kemudian dikenal dengan sebutan Rhodesia Selatan, sebuah kawasan koloni Inggris.

Mugabe kemudian menempuh pendidikan di Kautama College dan Universitas Fort Hare di Afrika Selatan. Dia belajar sejarah dan sastra Inggris lalu menjadi guru setelah lulus pada 1950-an.

Dilansir dari Los Angeles Times, Rabu (22/11), menurut sejumlah kabar, Mugabe dikatakan punya tujuh gelar akademis meliputi berbagai bidang termasuk pendidikan dan hukum. Enam gelar akademis itu dia peroleh lewat kursus korespondensi dan dua lagi diraihnya ketika dalam penjara karena melawan pemerintahan kolonial.

Mugabe ©2017 Keystone-France/Gamma-Keystone via Getty Images

Karir awalnya sebagai pendidik membawanya ke Rhodesia Utara atau Zambia sekarang. Di sana dia bekerja sebagai guru magang di kampus antara 1955 dan 1958. Dia lalu ke Ghana untuk bekerja di bidang yang sama. Di negara itulah dia bertemu istri pertamanya, Sally Hayfron yang kemudian wafat pada 1992.

Ghana kemudian menjadi negara Afrika pertama yang meraih kemerdekaan dari penjajah Eropa. Di Ghana Mugabe terinspirasi oleh gerakan nasionalisme Afrika dan Marxisme.

Pada 1960-an Mugabe kembali ke tanah airnya dan memimpin kampanye menentang kekuasaan warga kulit putih. Dia menyerukan kemerdekaan dan kekuasaan di tangan kaum kulit hitam.

Mugabe kemudian bergabung dengan Serikat Nasional Afrika Zimbabwe yang kemudian menjadi Barisan Patriotik Serikat Nasional Afrika Zimbabwe (ZANU-PF). Berkat kegarangannya menentang pemerintah dia mendekam di penjara dari 1963 hingga 1974 atas tuduhan penghasutan.

Selepas bebas dari penjara Mugabe berangkat ke Mozambik dan memimpin perang gerilya melawan kolonialisme Inggris. Perjuangan itu akhirnya berakhir di meja perundingan. Dan pada 1980 Mugabe mengungguli rival pejuang kemerdekaan lainnya untuk menjadi perdana menteri Zimbabwe yang baru.

Di bawah kepemimpinannya suara-suara sumbang dia habisi. Mugabe mengerahkan kekuasannya buat membantai ribuan warga di Matabeleland, wilayah kekuasaan lawan politik terkuatnya, Joshua Nkomo.

Sejak menjadi perdana menteri dari 1980-1987, Mugabe menyerukan persatuan nasional dan mengumandangkan rekonsiliasi antarras serta perbaikan kehidupan sosial. Dia mengenalkan pendidikan dan kesehatan gratis, membangun infrastruktur jalan, dan membuka kesempatan kaum kulit hitam bekerja di sektor yang sebelumnya hanya untuk kulit putih.

Berbagai kebijakannya membuat dia dikagumi dan disanjung sebagai bapak bangsa dan negarawan. Dia pun menjadi sosok hebat di mata dunia internasional. Tapi seperti roda kehidupan, itu semua tidak berlangsung lama.

Pada 1987 parlemen Zimbabwe mengubah konstitusi yang mengizinkan Mugabe menjadi presiden. Posisinya itu membuat dia punya kekuasaan untuk membubarkan parlemen, menerapkan operasi militer, dan bisa mengajukan diri lagi jadi presiden kapan saja dia mau. Dengan kata lain memberi dia kesempatan menjadi presiden seumur hidup, didukung partainya, ZANU-PF.

Mugabe ©2017 AFP

Perwakilan kulit putih di parlemen juga dihapuskan dan pemerintah dibolehkan meraih 20 persen dari 120 kursi parlemen. Sejumlah kalangan mengkritik Zimbabwe sudah mengarah ke monarki.

Awal 1990-an pemerintah Zimbabwe meloloskan undang-undang yang mengizinkan pengambilalihan separuh tanah milik kulit putih untuk pemukiman keluarga kulit hitam. Kebijakan itu menuai kritik dari komunitas internasional dan mengancam akan menahan bantuan luar negeri buat Zimbabwe. Mugabe menolak membatalkan kebijakan itu dan perekonomian Zimbabwe mulai merosot.

Dolar Zimbabwe mulai jatuh, inflasi meroket hingga 500 miliar persen. Pengangguran merajalela, bahan bakar kian langka dan penjarahan makanan mulai marak.

Mugabe mengkambinghitamkan kaum kulit putih dan rival politiknya yang dia sebut boneka kolonial. Hasil penyelidikan dan laporan media serta kelompok pembela hak asasi menyatakan tanah-tanah milik kulit putih yang dirampas ternyata tidak diberikan bagi keluarga warga kulit hitam, tapi dinikmati oleh menteri dan kroni-kroni Mugabe.

Kekerasan memuncak pada awal 2000-an ketika sejumlah veteran perang kemerdekaan kulit hitam menduduki lahan pertanian kulit putih. Sejumlah orang tewas dalam peristiwa itu, di antaranya petani, buruh tani dan anggota oposisi di parlemen.

Pada Oktober 2000, upaya kelompok oposisi menggulingkan Mugabe berakhir gagal. Pada putaran pertama pemilihan presiden Maret 2008 Mugabe kalah dari Morgan Tsvangirai, pemimpin oposisi dari Gerakan Perubahan Demokratik. Tapi Mugabe tidak mau menyerah dan dia melancarkan kampanye kekerasan yang menewaskan banyak orang, Tsvangirai akhirnya menarik diri dari putaran kedua dan setuju berbagi kekuasaan dengan Mugabe. Dia dilantik menjadi perdana menteri.

Pada 2013 Mugabe kembali terpilih jadi presiden untuk periode selanjutnya di tengah banyaknya tudingan kecurangan. Setelah itu Grace, juru ketik di kantor kepresidenan yang dia nikahi pada 1996, berambisi menggantikan posisi suaminya.

Pada 6 November lalu dia memecat Wakil Presiden kepercayaannya Emmerson Mnangagwa demi memuluskan Grace menjadi penggantinya. Grace dipandang kandidat saingan Mnangagwa buat menggantikan Mugabe.

Militer kemudian turun tangan pada 15 November lalu dengan mengambil alih kekuasaan negara dan menahan Mugabe beserta istrinya. Karena berbagai tekanan dari rakyat dan parlemen serta ancaman pemakzulan, Mugabe akhirnya mundur tadi malam. [pan]

Gosip terhangat sesuai yang dikabarkan media Indonesia tentang Robert Mugabe, pengagum Marxisme yang lengser sebagai diktator.