Unesa dan House of Sampoerna Gelar Pameran Untuk Lestarikan Warisan Budaya BERITA KORAN

Berita hari ini tentang Unesa dan House of Sampoerna Gelar Pameran Untuk Lestarikan Warisan Budaya.

Museum House of Sampoerna di Surabaya – Bisns/Dini Hariyanti

Bisnis.com, JAKARTA — Berangkat dari satu persamaan visi untuk tetap menjaga keaslian warisan budaya (memetri) sebagai identitas bangsa ditengah kemajuan teknologi, House of Sampoerna (HoS) dan UNESA Jurusan Seni Rupa menggelar pameran bertajuk Memetri Kriya.

Pameran tersebut akan dihelat di Galeri House of Sampoerna Surabaya pada 24 November 2017 hingga 06 Januari 2018.

“Pameran ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa Jurusan Seni Rupa Unesa, khususnya dan para penikmat seni pada umumnya untuk terus menjaga, mempertahankan serta melestarikan warisan budaya leluhur melalui sebuah karya seni” ujar Indah Chrysanti Angge Dosen Kriya Logam Unesa, Rabu (22/11/2017).

Seni kriya adalah sebutan untuk karya yang penggarapannya sarat dengan ketrampilan tangan, mempunyai nilai estetika yang tinggi, namun tetap fungsional.

Pada seni kriya, para Pande atau Kriyawan berkreasi dengan menggunakan teknik warisan para leluhur, seperti karya kriya logam dengan teknik ukir menggunakan alat pahat ukir logam dan landasan jabung, kriya keramik dengan teknik tekan, pilin dan bidang, karya batik dengan menggunakan canting dan malam sebagai perintang warna dan kriya kayu dengan teknik ukir menggunakan pahat ukir kayu.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, beberapa bahan maupun peralatan sudah tidak lagi dapat ditemukan, dan harus digantikan dengan peralatan yang lebih modern.

Namun, untuk menciptakan karya yang beridentitaskan Indonesia, peralatan modern ini digunakan hanya sebagai alat penunjang. Ketrampilan tangan para Pande tetap merupakan modal utama penciptaan sebuah karya kriya.

Penciptaan kriya berkonsep kekinian dengan tetap menjaga proses pembuatannya sesuai dengan warisan Pande leluhur, dapat dilihat pada karya yang ditampilkan oleh Jafar Huda Cahyanto berjudul Maha Atma, yang menggunakan logam wudulan dan endak-endakan yang diukir indah pada tembaga, beton eser dan kayu mahoni.

Juga tak kalah unik adalah karya Singgih Prio Wicaksono dengan judul Konsumsikillme, sebuah pahatan yang menggunakan media kayu mahoni, sampah kemasan dan resin ini dimaksud untuk mengkritisi budaya konsumerisme yang tumbuh pesat di masyarakat saat ini, yang tanpa disadari akan menimbulkan dampak kerusakan pada ekosistem.

Tidak hanya para mahasiswa, dosen pengampu dan alumni pun ikut menghadirkan kurang lebih 30 karya kriya yang melibatkan 16 peserta dari FBS UNESA antara lain Achmad Nuries, Achmad Hozairi, Chrysanti Angge, Cokro Retantoko, Faisall Wilma, Fera Ningrum, Huda Cahyanto, Muchlis Arif, Muhamad Taufik, Nurul Dwi Injaya, Okiek Febrianto, Prastyawan, Singgih Prio, Sofia, Marwati, Sulbi Prabowo, Wahyu Ferdiyan.

“Arus kemajuan teknologi pada era milenial yang begitu pesat bukan untuk menjadi sebuah pembenaran untuk ikut terseret dan menjauh dari identitas bangsa. Teknologi justru adalah sebuah peluang dalam proses berkreasi, yang bukan untuk mendominasi dan menenggelamkan nilai-nilai tradisi yang telah tumbuh turun menurun di masyarakat tradisional” ujar Ina Silas, General Manager HoS.

Gosip terhangat sesuai yang dikabarkan media Indonesia tentang Unesa dan House of Sampoerna Gelar Pameran Untuk Lestarikan Warisan Budaya.